28 Februari 2013

Kali ini saya mau cerita sedikit tentang pengalaman pertama kalinya saya menjadi seorang akhwat. hehe...
Bermula dari pertemuan saya dengan calon kakak ipar perempuan saya (sekarang sudah benar-benar menjadi kakak ipar perempuan saya) yang merupakan seorang akhwat dengan khimar panjangnya dan anggun. Ya, kesan itulah pertama yang timbul di benak saya terhadap akhwat di depan saya. Mulai sejak itu, saya memutuskan untuk mencoba-coba mengenakan khimar di rumah (meski di sekolah belum). Meski aneh, risih dilihatnya, tapi entah datang kesejukan sendiri. Alhamdulillah...
Saya ingat waktu itu saya sedang duduk di bangku kelas 1 SMP. Sedang jadi anak bandl sebandel-bandelnya. Menjelma menjadi anak perempuan setengah cowok, dengan potongan rambut pendek hingga banyak teman bilang 'polwan! polisi wanita!' heleeh... Ditambah sepatu yang dipake sepatu cats, tas ransel hitam, jadilah saya yang dahulu... *face down*



Tapi entah, saat mulai memasuki akhir semester dua, ada keinginan berjilbab. Aneh pasti. Suatu keadaan yang tiba-tiba sekali. Bahkan, kalau orang yang benar-benar tomboy seperti saya mau berubah menjadi feminim LANGSUNG berhijab, mungkin semuanya akan kaget. Tapi, hidayah Allah siapa yang menyangka 'kan datangnya?

Jadilah saya mengusulkan untuk berjilbab pada keluarga besar saya. Kelima kakak saya yang semuanya adalah laki-laki, otomatis langsung setuju dengan hijrah saya ini. Mereka tahu, kalau adik bungsu perempuan satu-satunya ini memang sudah patutnya mengenakan jilbab, sudah saatnya juga ada yang menjaganya saat mereka berlima jauh dan hidup masing-masing dan bapak tak mungkin lagi kemana-mana selalu menjaga. Namun, namanya saja Allah mau menguji keseriusan berhijrah. Allah ngasih cobaan lewat kepala sekolah SMP waktu itu yang juga masih merupakan sanak dekat keluarga. Beliau menyarankan agar belum dulu mengenakan jilbab karena beliau khawatir nanti di SMA jilbab saya ditanggalkan begitu saja seperti tetangganya kebanyakan. Astaghfirullah... Insya Allah, saya bukan mereka. Jilbab saya ini hanya akan saya tanggalkan di depan keluarga saya yang muhrim, juga pendamping saya kelak sampai sudah tiba waktunya saya dirindui oleh-Nya.
Akhirnya, seragam baru pun dibelikan oleh ibu dan bismillah saya berjilbab ! Yeay!!




Hari pertama masuk di semester ke tiga alias kelas dua SMP. Saya berjalan kaki menuju sekolah. Masih malu-malu diliatin tetangga. Meski banyak yang bilang positif kayak 'Wah, cantik kak.' dan wah lainnya, saya masih ragu untuk melangkahkan kaki menuju sekolah. Saya putuskan lewat gerbang depan, berharap teman saya semua nongkrong di kantin. Dan ternyata tebakan saya salah. Mereka semua sedang ngobrol asyiknya di taman sekolah bagian depan. Alhasil, mereka pun terkejut dengan penampilan baru saya. Saya agak sungkan berbicara banyak karena ingin mengadaptasikan diri terlebih dahulu dengan penampilan baru saya ini.
Saya pikir waktu itu hanya saya saja yang mengenakan jilbab untuk pertama kalinya. Ternyata ada juga seorang teman, Ayu namanya (saya panggil mbak Ayu) juga berhijrah dengan jilbab langsungnya yang mini. Jadilah, satu sekolah itu kami bertiga yang mengenakan jilbab (sebagai siswi) saya, mbak Ayu dan Melda. Iya, Melda. Dia sudah mengenakan jilbabnya sewaktu masih SD.
Pekarangan sekolah saat itu ramai sekali karena banyak peserta didik baru, adik kelas satu yang juga mengikuti upacara penerimaan siswa/i baru. Sewaktu baru sekali melangkahkan kaki menuju bagian tengah sekolah, langsung dipanggil pak Syamsul untuk menjadi MC di upacara. Kaget? Pastinya. Selama kelas satu selalu menjadi siswi yang berada di barisan paling belakang, ogahan menjadi bagian kepanitiaan, sekarang disuruh menjadi MC lagi. Pengalaman pertama, coy :O


Masuklah saya ke kelas 8.1. Menemukan suasana kelas yang agak berbeda. Memandangi kelas di belakangnya yang terpisah oleh lapangan rumput. Ya, itulah kelas satunya dahulu. 7.1. Memulai sebagai siswi yang sudah berhijrah, tidak semudah yang dibayangkan. Ujian yang Allah kasih pun datang. Dia mau lihat seberapa kuatkah saya menjaga hati saya. Sinyal-sinyal yang tak biasa mulai berdatangan. Ada salah seorang siswa pindahan, kata tema satu kelasnya tertarik dengan saya. Saya yang saat itu memang sedang musim-musimnya bunga bermekaran, mulai terusik dengan keadaan yang sebenarnya lumrah, namun saya tolak mentah-mentah. Tak salah-salah, cowok itu benar-benar 'menembak' di belakang gedung sekolah dasar di seberang SMP saya. Saya bilang untuk beri waktu sampai besok pagi. Seharusnya, langsung saja saya jawab'TIDAK' waktu itu karena memang hakikat saya yang sudah ditanamkan kakak saya untuk tidak pacaran, membuat saya memilih untuk memang tidak berpacaran terlebih dahulu. Masih terlalu kecil untuk memadu kasih #eaaa


Atas penolakan itu, tak lantas membuatnya mundur begitu saja. Dia berhasil mendapatkan nomer hape saya. Dia 'menembak' saya kembali dengan sms. Lantas, membuat saya tambah yakin untuk tidak menerimanya. Dan kejadian itupun berangsur menghilang. Dan tibalah di semester lima, kelas tiga.
Ujian hati itu diberikan lagi oleh-Nya. Dan kali ini, yang 'menembak' saya itu adalah sahabat laki-laki itu sendiri. Mana mau saya sama laki-laki yang mengkhianati temannya sendiri. Dan benar-benar dia melakukan penembakan saya di depan temannya sepulang sekolah.
Salah seorang teman saya yang satu kelas dengan saya, yang juga teman inisial 'K' mencegat saya untuk pulang dulu. Ia memegang tangan saya sambil duduk di bangku depan kelas. Saya sebenarnya kaget, takut, dan cemas mau diapakan saya. Padahal sekolah mulai beranjak sepi. Guru-guru sudah banyak pulang. Yang lebih membuat saya kaget, K itu keluar dari kelas yang memang letaknya dekat dengan kelas saya, dan bilang sesuatu. Meski tampangnya sudah bercucuran keringat dan matanya sudah mengelilingi seisi sekolah sambil bilang, 'Ki, aku cinta kamu' (jujur ya pemirsa, saat mengetik ini saya agak berat, senyam-senyum sendiri :D ). Aku bilangnya ya 'Ga mau pacaran.' Udah. Titik! Seebanarny jawab singkat selain karena ingin cepat-cepat pulang, karena emang ada sahabatnya itu yang berdiri di belakang inisial 'K' ini. Dasar mah, cinta monyet! =3 Dan semenjak itu, tidak ada lagi yang menyatakan perasaan hingga saya lulus SMP.


Khimar Biru . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates